"Karena yang dihadapi kotak. Kotak artinya dia tidak punya otak, dia tidak punya visi dan misi, padahal kita punya penduduk terbesar, empat terbesar dunia," imbuhnya.
Baca juga: Pilkada Wakatobi, Arhawi-Hardin Laomo Jajaki Tambah Koalisi
Menurutnya, adanya kemungkinan calon tunggal di 31 daerah tersebut membuktikan bahwa upaya untuk melakukan pendidikan politik dan demokrasi telah mengalami pasang surut dalam memilih pemimpin masa depan. Hal itu juga sebagai pertanda demokrasi tidak sehat.
Ia menyatakan, perlu ada terobosan dilakukan melalui Undang-Undang yang berkaitan Pilkada atau Pemilu.
Fenomena calon tunggal yang melaju sendiri alias menghadapi kotak kosong di Pilkada menambah daftar metode ‘culas’ yang berdampak buruk bagi demokrasi tersebut.
