"Ada tiga yakni peristiwa Negara Kertagama disitu terjadi penaklukan, bergabungnya tiga daerah dan masuk Islam yang dibawa oleh Syek Abdul Wahid. Jika merujuk pada tiga peristiwa itu, maka pandangan yang normatif Islam itu peradaban dan sangat besar pengaruhnya bagi peradaban di Jazirah Selatan Buton," kata Wakil Rektor Universitas Dahyanu Ikhasanuddin (Unidayan) itu.
Kata dia, awalnya tim merekomendasikan datangnya Syek Abdul Wahid di Rampea. Dalam catatan sejarah peristiwa itu terjadi tahun 940 hijriah.
"Namun ada koreksi dari pak Munafi bahwa mundur 20 tahun atau 920 hijriah. Data-data itu akan menjadi pembanding. Kalau mau ditetapkan ini dan dalam studi ada semua tentang itu," ujarnya
Lebih jauh dikatakan, maksud penyusunan dokumen sejarah Buton Selatan ini akan berpulang kembali pada pemerintah. Apabila pemerintah menindaklanjuti seminar akhir studi ini sehingga menjadi rujukan untuk menjadi hari jadi Buton Selatan, dasarnya harus menyusun naskah akademik, kemudian diseminarkan lagi lalu disepakati, baru diusulkan DPRD untuk dibuatkan Perda.
Sementara Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Buton Selatan, La Amiri melalui sekdinnya, Amir Sarlito Womal mengatakan, tujuan studi penyusunan dokumen sejarah Buton Selatan untuk menghasilkan rekomendasi akhir terkait dengan Hari Jadi Buton Selatan.
