Polemik yang sering diributkan sebabnya sebenarnya sederhana. Pengguna sosial media kita umumnya menggunakan satu sumber informasi yang tunggal tanpa adanya verifikasi, pembanding informasi dari pihak lainnya. Hingga akhirnya muncullah glorifikasi yang memanas hingga menjadi perbincangan nasional.
Soal toa masjid dan gonggongan anjing sebenarnya sudah diklarifikasi oleh Kemenag melalui staf khususnya melalui youtube viva.co.id (24/02). Dalam video klarifikasi lengkapnya menjelaskan latar belakang mengapa analogi itu digunakan oleh Kemenag. Jelas disampaikan bahwa suara toa masjid dan gonggongan anjing digunakan sebagai analogi bukan dalam konteks membandingkan.
Dalam penjelasannya Stafsus Kemenag menjelaskan bahwa Gus Yaqut menggunakan kata “misal” dengan membalikkan apabila seorang muslim tinggal sebagai minoritas di kawasan tertentu dimana masyarakatnya banyak memelihara anjing, pasti seorang muslim tersebut akan terganggu apabila tidak ada toleransi dari tetangga yang memelihara anjing tersebut.
Literasi
Dalam soal literasi. Literasi menggunakan dasar helicopter view, maksudnya pengguna sosial media dapat menggunakan “tidak hanya satu informasi” untuk dapat langsung menyimpulkan satu persoalan. Dasar persoalan yang dominan di ributkan di sosial media adalah tentang tidak adanya sikap skeptis.
