Kita mudah menyimpulkan dan menelan mentah-mentah satu informasi dan kemudian berpendapat. Terlalu hitam putih dalam berpendapat akan rentan, apabila informasi yang kita peroleh bukan informasi utuh, apalagi bukan fakta sebenarnya.

Persoalan ini juga mengakar pada karakteristik sosial media yang menyediakan informasi yang “siap saji.” Sosial media dijadikan sebagai sumber informasi utama, sebabnya adalah akses yang mudah dan cepat, sedangkan faktor utama yaitu fakta lengkap untuk melihat satu informasi secara utuh tidak bisa hanya dengan informasi dari media sosial.

Baca Juga: Kisah Adrian Takelayratoe Sangaji sebagai Perintis Batik Lampung

Bagian ini terkait dengan informasi literacy. Artinya, bagaimana kita sebagai pengguna mampu mencari, menemukan, menilai dan mengevaluasi secara kritis informasi yang ada. Hal ini akan bermuara pada sikap akhir kita ketika merespon satu informasi.

Mengonsumsi informasi melalui media sosial dengan cerdas adalah tentang tanggungjawab, ini bukan soal eksistensi tapi keadaban bangsa kita dengan kultur ketimuran seharusnya bisa menjadi rujukan dalam mengonsumsi informasi dari media sosial.