Skeptisme
Kita sudah kadung dengan banjir infodemi di tahun kemarin yang menyebabkan meluasnya disinformasi tentang pandemi. Hal ini juga menjadi soal bagaimana suplai informasi yang tidak akurat, terdistorsi, palsu bisa tersebar dan mudah untuk dipercaya. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa disinformasi dibagikan dengan tujuan mengarahkan publik melakukan aktivitas yang keliru.
Untuk membendung ini kita perlu skepsisme kritis. Informasi di media sosial bukanlah satu sumber tunggal dan utuh untuk mudah disarikan sebagai fakta sebenarnya. Karakter penyajian informasi (instan) di media sosial adalah faktornya.
Seharusnya, banjir informasi mengarahkan kita pada verifikasi, dengan mencari sudut pandang lain/berbeda. Kombinasi ini akan menimbulkan sikap skeptis kita terhadap informasi awal yang kita baca, setelah itu kita masuk pada proses verifikasi mencari sumber utuh/sebenarnya.
Kita tidak boleh terjebak pada viralitas. Sebab, karakter media sosial adalah persebarannya yang cepat sehingga membuatnya menjadi populer hingga mudah menjadi headline perbincangan publik.
