Ketiga pasien tadi sudah memenuhi semua persyaratan tersebut. Tetapi, sampai di sini justru muncul persoalan yang bikin ketar-ketir. Ketika pendaftaran untuk ke dokter saraf yang sudah ditentukan, ternyata sistem --yang sebenarnya sudah computerize-, tak bekerja.
Akibatnya, Surat Elegebelitas Pasien (SEP) yang menunjukkan pelayanan ke dokter yang bersangkutan, tak bisa dicetak. Artinya, hari itu mereka tak bisa kontrol berobat.
Akibat lanjutnya, kehabisan obat yang harus dikonsumsi berdasarkan resep dokter. “Padahal, anak saya epilepsi. Kalau kehabisan obat bagaimana ya ini? Dia di rumah pernah terjatuh lho. Mau gimana ini ya?” kata Si Ibu.
Kekhawatiran perempuan usia 60-an itu mengundang ekspresi kekhawatiran pula pada suami-suami yang mendampingi Ny. R dan Ny. H.
Petugas di bagian cetak SEP manual, sudah terus-menerus berusaha, tapi tetap gagal masuk ke sistem. Sementara dokter syaraf yang semula tiga orang, konon hari itu, hanya satu yang bertugas (cuma mereka yang tahu alasannya kok sampai begitu).
