Rasional saja, dengan satu dokter berarti jumlah pasien yang dapat dilayani, tentu jadi terbatas.

Seorang laki-laki --belakangan diketahui dari humas-- segera bertindak membantu rekan-rekannya di bagian pendaftaran. Ia mencoba sampai tiga kali melalui sistem komputer tersedia, tapi ternyata SEP tetap saja tak bisa dicetak.

Setelah berkali-kali pula ia menghubungi bagian terkait melalui telepon genggamnya, barulah sistemnya “terbuka”. Toh sistem bergeming, tetap saja SEP tak bisa dicetak.  

Ketiga keluarga pasien kemudian dibawa ke ruang customer service (CS). Mereka diserahkan kepada seorang perempuan,  petugas humas lainnya. Di sini mereka diminta menyampaikan hal-hal terkait kejadian tadi.

“Gunanya agar ke depan ada solusi bila menghadapi masalah serupa,” kata petugas tadi seraya ngeloyor pergi ke ruang tunggu untuk membantu rekannya di bagian pencetakan SEP.