Selain untuk hiburan, Tari Linda ini menjadi salah satu bagian dalam upacara kari'a, ritual khusus masyarakat Muna untuk anak perempuan yang menjelang dewasa. Upacara yang berupa pingitan ini merupakan ritual wajib anak perempuan sebelum mereka menikah. Tarian ini biasanya dibawakan oleh enam hingga delapan orang penari perempuan dan para penari mengenakan pakaian adat suku Muna.
Menurut salah satu imam masjid di Desa Lakarinta, La Ntolori, Tari Linda wajib ditampilkan dalam upacara kari'a karena masyarakat lokal mensakralkan tari tersebut sebagai syarat pensucian diri seorang anak perempuan yang menjelang dewasa. Di samping itu, keberadaan Tari Linda dalam upacara adat kari'a merupakan bentuk perayaan kemenangan.
Baca Juga: Balanga Nuua, Kerajinan Tanah Liat Masyarakat Katobengke Kota Baubau
“Harus kita menari, makanya sebelum kita dipingit kita belajar dan diajarkan oleh salah seorang guru Tari Linda. Guru Tari Linda sudah ditunjuk oleh orang tua yang punya acara pingitan. karena wajib menari sebagai penutup dari proses pingitan itu sendiri,” ujar Sari Sinta, seorang wanita yang sudah di-kari'a dan pernah menari di acara kari'a, pada Telisik.id.
Menurutnya, Tari Linda harus selalu dilestarikan sebagai ciri khas masyarakat Muna. Dan bagi wanita-wanita suku Muna harusnya bisa belajar tarian ini agar tidak punah dan terus ada di dalam masyarakat, bukan hanya untuk lomba-lomba tapi juga untuk mempertahankan apa yang sudah ada di masyarakat kita sejak dahulu. (A)
