Mengais barang bekas jadi pencaharian semata wayang Asna untuk menghidupi tiga orang anaknya. Satu anak sulung lanangnya putus sekolah kemudian memilih merantau ke tanah Papua. Sang suami sebelumnya berdagang ikan, tetapi terpaksa berhenti lantaran kerap merugi dan kehabisan modal. Setelah menyetop berdagang ikan, suaminya mengidap penyakit hernia (usus turun) lantas tidak bisa mengerjakan beban berat, karenanya memilih mengumpulkan barang bekas.
Pendapatan yang diterima pun tidak menentu, seringkali sekedar cukup dipakai membayar sewa kos tempat tinggalnya sekeluarga berbiaya Rp250 ribu per bulan. Tapi, tak jarang juga Asna menunggak penuhi kewajiban membayar uang kos. Beruntung, pemilik kos tidak pernah memaksakan harus selalu membayar tepat waktu.
"Kalau belum ada dia tidak (paksa) juga. Pokoknya ada (uang) saya bayar," ucapnya.
Asna dan suami menjual barang bekas yang dikumpulkan setiap bulan kepada seseorang yang dipanggil 'bos' lewat cara ditimbang. Tiap barang bekas dihargai berbeda per kilonya mulai Rp1.000 sampai Rp5.000 sesuai jenisnya.
"Biasa saya jual setiap hari bisa dapat Rp10 ribu. Tapi kalau bos bilang kumpul, saya kumpul dulu," beber Asna.
