Selama menjadi pengumpul barang bekas, Asna menghadapi masalah kerap menjadi sasaran penertiban anggota Satpol PP. Ia tidak bisa berlama-lama duduk beristirahat untuk menghindari razia. Dia pernah menyaksikan gerobak teman-temannya disita petugas.
"Kalau dilarang kasihan bagaimana kita mau makan. Mana anakku tiga orang, mana kita mau bayar kos. Apa yang kita mau hidupkan kalau tidak mencari?" Keluhnya dengan nada sedikit meninggi.
Dalam memenuhi kebutuhan pangan seperti beras, Asna lazim meminta dari bos dengan jaminan barang bekas. Buat konsumsi keseharian, hidangan nasi dan sayur kangkung atau daun ubi rebus sudah cukup mewah bagi keluarga Asna. Sayuran kangkung dan daun ubi biasanya ditemui di tempatnya mencari barang bekas. Sementara lauk lain semacam ikan sangat langka tersaji di piring makan sebab harganya dianggap mahal.
"Anak-anakku tidak pilih-pilih asalkan ada nasi. Saya syukuri saja, yang penting saya sehat-sehat," harapnya.
Perasaan jengah jika keluarga tahu keseharian dirinya hanya memunguti barang bekas, kadang kala membebani derap langkahnya saat berada di jalanan. Asna yang kini berusia kepala empat berstatus warga migran dari Muna, datang mengikuti suami yang sejak lahir hingga tumbuh di Kota Kendari. Selama masih berada di kampung halaman, Asna bekerja bertani. Mulanya waktu berpindah, ia tinggal di rumah mertua di daerah dataran tinggi kota lama, tempat banyak warga sekampungnya bermukim.
