"Biasanya saya kumpul dua atau tiga minggu kemudian baru bawa ke pengumpul. Bulan lalu Rp 1,6 juta saya dapat. Sekarang susah kumpul barang bekas, apa lagi kardus di musim hujan kayak sekarang ini susah," ujar Ibu Ruha sambil memijit betisnya.

Dulu dia pernah berjualan di salah satu Sekolah Menegah Pertama (SMP), jualan mi siram dan pop ice. Tapi karena ongkos sewanya naik, dia putuskan berhenti.

"Saya tidak mampu bayar sewa tempat, harga sewanya Rp 1,5 juta per bulan, sementara pendapatan usaha tidak seberapa, jadi saya memutuskan berhenti menjual di sekolah itu," tuturnya.

Sejak 2018 ia berhenti berdagang, uang modal habis untuk hidup. Terpaksa ia mencari pekerjaan yang bisa dikerjakan di umurnya yang tidak muda lagi.

Baca Juga: Penjual Sapu Lidi Mengais Rezeki di Tengah Hujan Deras, Kadang Hanya Dapat Rp 10 Ribu