Bila memperhatikan sebelumnya, calon kepala daerah sudah bergerak sejak setahun lalu. Mempersiapkan dan membentuk timses, membangunan popularitas,  akseptabilitas dan meningkatkan elektabilitas.

Tahapan ini memang harus dilakukan, agar kandidat mendapatkan rekomendasi (perahu) dari partai politik untuk berlaga di pilkada.

Tak sedikit biaya politik yang dikeluarkan dalam melaksanakan program tersebut. Dengan harapan mendapatkan partai politik pengusung dalam pilkada.

Tak ayal, wabah covid 19 datang,  negara terdampak dan pemerintah bersama parlemen pusat kemudian bersepakat untuk menunda pilkada.

Memperhatikan situasi politik nasional maupun daerah akibat pandemic ini, para kandidat kepala daerah pun mulai mengendurkan ikat pinggang.