Kisahnya bermula pada suatu malam, di mana Nabi Ibrahim AS bermimpi menyembelih putranya, Ismail, saat Ismail telah sampai pada usia sanggup bekerja dengan Ibrahim AS.

Ubaid Ibnu Umair menyebutkan bahwa mimpi para nabi merupakan sebuah wahyu. Hadis yang menyebutkan hal demikian ada dalam kitab-kitab Sittah.

Disebutkan dalam sebuah riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas RA, Mujahid, Ikrimah, S'id Ibnu Jubair, Ata Al-Khurasani, dan Zaid ibnu Aslam dan lainnya, maksud dari firman-Nya 'Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya' adalah tumbuh dewasa dan dapat bepergian dan bekerja seperti yang dilakukan ayahnya.

Pada saat Nabi Ibrahim AS membaringkan puteranya yang siap untuk disembelih dan keduanya tunduk serta berserah diri kepada kehendak dan ketentuan Allah SWT, maka Nabi Ismail AS yang ada di hadapannya tersebut digantikan oleh Allah dengan seekor sembelihan yang besar.

Dalam sejumlah riwayat menyebutkan bahwa Nabi Ismail As digantikan dengan kabing gibas.