Setelah mengemukakan tujuan sensus yaitu untuk membuat tolok ukur rata-rata pendapatan per rumah tangga, kemudian mereka mendata, antara lain kendaraan yang digunakan, bahan bakar memasak, kebutuhan dapur sehari-hari, dan lain-lain.

Selang tiga hari setelah itu, datang dua Ibu-ibu “berpakaian khas” mengaku dari RT setempat. Mereka datang untuk memungut iuran bulanan. Tetapi, setelah mememberi “kartu iuran bulanan”, mereka urung memungut. Malahan mereka terlibat “debat kusir” dengan si tuan rumah saat ditanya: 1) dana yang terkumpul digunakan untuk kegiatan apa saja? dan 2) tahukah bahwa di kompleks ini ada seorang janda terlantar?

Tak jelas apa yang diuraikan secara bergantian tak beraturan oleh kedua ibu muda tadi, sementara si tuan rumah mendengarkan saja. Kemudian, salah seorang dari kedua Ibu-ibu  itu, ngeles menjawab, “Mana kami tahu. Makanya, dia itu (si janda terlantar, pen) bergaul dong.” Mereka lantas berlalu begitu saja dan hingga kini tak pernah datang lagi untuk memungut iuran.

Dalam acara bedah buku “Seabad Koentjaraningrat” 15 Juni 2023 di Bentara Budaya, Palmerah Selatan, Jakarta, seorang peserta menggugah murid-murid Prof. Koentajaraningrat (Pak Koen), untuk menanggapi “gotong royong” yang tampaknya kian tergerus.

Sebagai latar belakang, ia membandingan kepedulian penumpang trem di sebuah negara tetangga dengan penumpang di Kereta Rel Listrik (KRL) di Ibu Kota Jakarta yang duduk, saat tahu ada penumpang yang berdiri namun lebih layak duduk ketimbang dia.