Di negara beragam asal suku-bangsa yang juga dikenal sebagai “negeri bule” itu, urainya, semua penumpang muda (normal) berdiri, membiarkan bangku di depannya kosong. Maka, ketika di sebuah halte ada yang baru naik dan ternyata lebih layak duduk, langsung saja menempati kursi kosong tersebut.
Di atas KRL Jabodetabek kebanyakan penumpang duduk berderet, sepanjang jalan pura-pura tertidur pulas atau asyik ber-gadget ria sehingga tak peduli lagi kiri-kanan. Nah, ketika ada di antara mereka yang bangun, lantas mempersilakan penumpang lanjut usia (manula) menempati tempat duduknya, sungguh itu terasa sebagai sebuah perbuatan surprise. Langka!
Baca Juga: Kepedulian dan Gotong Royong
Dengan perbandingan tersebut, muncul tanya, “Yang individualis itu, kebanyakan mereka yang di sana atau yang di sini, ya…?” Salah seorang pembedah –rupa-rupanya murid Pak Koen— cekatan menanggapi, “Kita tidak perlu sinis, terbukti pada masa pandemi covid-19 yang lalu, gotong royong itu, sangat tampak.”
Saya kira dia benar. Meski harus diakui, di sejumlah tempat di tanah air, juga bermunculan penolakan warga terhadap jenazah korban covid-19 yang akan dimakamkan di pekuburan dalam wilayahnya. Agaknya, mereka menduga COVID-19 masih terbawa oleh jenazah, sehingga akan menulari mereka.
