Dengan menggabungkan beberapa satelit dalam formasi presisi, teknik formation flying membuka jalan bagi pengembangan teleskop dan instrumen luar angkasa yang jauh lebih besar dan kompleks.

Hal ini memungkinkan kita untuk mempelajari fenomena kompleks seperti krisis iklim, objek tata surya, dan bahkan exoplanet.

"Jika kita mampu menempatkan beberapa satelit berdekatan satu sama lain dalam formasi yang mutlak, akurat, dan presisi, kita akan mampu merakit instrumen yang lebih besar yang tersusun dari beberapa satelit," ucap Dietmar Pilz, direktur teknologi di ESA.

Dengan investasi sebesar €200 juta atau sekitar Rp3,3 triliun, misi ini diharapkan dapat menghasilkan data awal pada Maret 2025. (C)

Penulis: Merdiyanto