Oleh: Dr. M. Najib Husain

Dosen FISIP UHO

MENURUT budayawan Emha Ainun Nadjib bahwa orang-orang yang mudik lebaran adalah pribadi-pribadi yang secara naluriah berupaya menghidupkan kembali “ruh” jiwanya setelah sekian lama terlempar di wilayah kota-kota yang menguras energi ruhaniah mereka.

Ia menilai sangat berbahaya jika orang Indonesia tak lagi mengenal akar budaya asalnya. Nilai-nilai tradisi yang luhur memang hanya bisa ditumbuhkan kembali dalam hati sanubari kaum urban lewat mudik lebaran. Ikatan kekeluargaan yang semakin renggang dapat diperkuat dan diperbaharui kembali. Sehingga jalinan komunikasi tetap dapat terjalin kembali, tanpa ada lagi rasa dendam diantara mereka.  

Inilah mungkin Islam ala Indonesia, lebaran sebagai tanda akhir puasa Ramadan harus diwarnai dengan ritual mudik yang menguras tenaga dan biaya. Padahal di era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, kita sudah bisa melakukan komunikasi saling kabar-kabari sekaligus meminta maaf dengan menggunakan HP atau dengan SMS dan WhatsApp, dan dapat juga dilakukan secara online dengan menggunakan media sosial, baik  facebook, instagram dan berbagai pelayanan internet lainnya.