Bahkan ada yang lebih aneh dan menggelitik. Konon, dalam ritual sex tersebut, kaum lelaki tidak boleh agresif dan hanya kaum perempuanlah yang mengendalikannya.

Ternyata perilaku tersebut merupakan sebuah tradisi dengan maksud menghormati kaum perempuan. Konon hal tersebut akan berpengaruh terhadap keturunan mereka kelak.

Anehnya, dalam budaya ini mereka tidak pernah mengenal yang namanya perceraian, begitu juga dengan kata "pelacur" sama sekali merupakan kata yang aneh bagi suku ini.

Baca Juga: Wanita Ini Menikah dengan Jembatan, Direstui Wali Kota

Dilansir dari Jurnalsoreang, selain itu para gadis penghuni gubuk tersebut tidak hanya menerima satu atau dua lelaki saja, melainkan banyak, dan salutnya tidak pernah terjadi perkelahian, meskipun ahirnya hanya satu yang dipilih.