Amien Rais berpikir bahwa ketokohan dirinya dianggap dapat membesarkan Partai Ummat. Partai Ummat pun berdiri dengan dasar kekeluargaan yang begitu kental, dari anak hingga menantunya. Dengan juga turut mengikuti beberapa anggota legislatif sempalan dari PAN, kader kepengarusan sempalan dari PAN, serta juga turut mengikuti beberapa orang-orang yang seirama dengan Amien Rais yang masih senang menguras emosi masyarakat dengan isu politik identitas.
Dalam perkembangannya, Partai Ummat layu sebelum berkembang. Kepengurusan dari tingkat pusat satu persatu meninggalkan partai ummmat dengan berbagai alasan seperti Agung Mozin mengundurkan diri, disusul oleh Neno Warisman sebagai Wakil Ketua Majelis Syuro Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Ummat, dilanjutkan dengan pengunduran diri 26 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Ummat Kota Depok, kemudian disusul dengan sejumlah 19 kader pengurus aktif DPD Partai Ummat di Cianjur.
Penyebab mundurnya kader-kader partai mudah dipelajari oleh publik. Terjadi dualisme kepemimpinan. Membuktikan bahwa di tubuh partai ini telah terjadi faksi-faksi sehingga terjadinya dualisme kepemimpinan seperti terjadi di Kota Depok dan Cianjur.
Jelas mudah dipahami, bahwa ikatan antarfaksi ditubuh partai lebih dipengaruhi oleh kepentingan individu/kelompok dibandingkan adanya kesamaan gagasan. Kepentingan faksi-faksi ini hanya satu saja berupa pertarungan perebutan kepemimpinan, ini juga turut membuktikan kehadiran mereka di dalam partai bukan atas panggilan hidup maupun kesamaan tujuan, tetapi kehadiran dalam kancah politik partai lebih diutamakan karena faktor mencari pekerjaan dan penghidupan semata.
Jelas tampak di sini, Partai Ummat dibentuk bukan atas dasar kesamaan tujuan dan harapan yang kemudian menjadi dasar semangat ideologis partai. Sehingga yang terjadi adalah betapa lemahnya soliditas elit di tubuh Partai Ummat.
