“Saya bingung saat pertama kali, karena transisi dari menjadi pengajar Bahasa Inggris kemudian harus mengajar Bahasa Indonesia. Tapi karena sudah diberi amanah jadi saya harus menggunakan kesempatannya,” tuturnya.

Setelah menyelesaikan program pertukaran di tahun 2015, Wawan kembali terpilih di tahun berikutnya menjadi salah satu dari empat pengajar muda se-Indonesia. Dia diseleksi oleh Balai Bahasa Indonesia Perth dan Departemen Pendidikan Australia Barat selama satu tahun.

“Dengan kerja keras dalam belajar serat mencari koneksi selama program, ketika saya pulang dari Australia saya daftar lagi. Saya mendapatkan rekomendasi, dari supervisor di tempat mengajar sebelumnya. Sepertinya rekomendasi itu jadi poin penting untuk diterima kembali mengajar di sana,” tegasnya.

Selama kurang lebih satu tahun Wawan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan karirnya, untuk menjadi pengajar Bahasa Indonesia. ada lima sekolah seperti Como Secondary College dan Geraldton Primary School. Selama di sana, banyak tantangan yang dihadapi selama menjadi pengajar di Australia terutama karena sistem pembelajaran yang berbeda.

“Jadi pengajar Bahasa Indonesia itu tidak mudah, orang beranggapan bahwa kita harus tahu semua hal tentang Indonesia, baik tentang budaya, lingkungan, pariwisata hingga politik padahal kan dasarnya saya hanya belajar Bahasa Inggris saat kuliah. Jadi saya harus banyak membaca dan belajar hal yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, misalnya belajar tari, lagu, masakan daerah hingga isu lingkungan dan politik yang sedang tren pada saat itu,” ucapnya.