Baca Juga: Tradisi Unik Suku Wodaabe: Adu Gigi Putih hingga Culik Istri Orang
Setiap kali ada remaja perempuan yang mendapatkan menstruasi pertamanya, masyarakat Baul mengadakan selebrasi. Dalam acara tersebut, darah haid ditampung dan dicampur dengan susu sapi, kamper, air kelapa, dan gula aren.
Setelah diolah, cairan tersebut menjadi hidangan yang disajikan kepada keluarga dan teman-teman. Hidangan ini terutama ditujukan bagi pria, yang tidak memiliki darah haid dan dianggap tidak lengkap secara spiritual.
Pria dalam suku Baul percaya bahwa mereka perlu “menyerap” darah haid dari sumber eksternal untuk mencapai keseimbangan spiritual.
Praktik ini diyakini memberikan kekuatan memori, meningkatkan kecantikan, serta membawa kebahagiaan pada jiwa. Dalam waktu sebulan, pria-pria dari sekte ini secara rutin menyantap darah haid seorang gadis. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini juga diikuti oleh wanita dewasa di kalangan mereka.
