Pada usia 17 tahun ia baru mengenyam pendidikan Sekolah Dasar Luar Bisa (SDLB), kemudian lanjut SMP hingga SMA, ia tinggal SLB. Di sana ia tinggal di asrama dan mulai menata hidupnya belajar bahasa isyarat agar ia bisa menyesuaikan dengan teman-temannya yang berkebutuhan khusus.
Setelah lulus SMA, ia kemudian berbicara pada orang tuanya mengenai keberlanjutan kehidupannya. Namun jawaban orang tuanya membuat terasa ditampar.
"Saya bicara sama orang tua bahwa saya ini sudah lulus. Tapi apa yang saya dengar, mereka bilang, ko mau kerja apa itu. Ucapan itu membuat saya terdiam," kenangnya.
Dengan perasaan kacau, ia memberanikan diri bercerita pada kepala sekolahnya. Tak disangka, kepala sekolah memberikan solusi untuk merantau ke Kota Kendari dan diangkat sebagai penjaga sekolah di SLB Kusuma Bangsa.
Ketika ia tiba di SLB tempat ia tinggal saat ini, ia mengaku tak bisa apa-apa dan sangat kesulitan dalam mengerjakan beberapa pekerjaan. Namun karena prinsip yang selalu ditanamkan agar mencoba terlebih dahulu sebelum menyerah, membuatnya terbiasa dan bisa melakukan pekerjaan mengurus sekolah hingga saat ini.
