Sementara Ketua Jaringan Demokrasi (JaDi) Sulawesi Tenggara, Hidayatullah mengatakan, ada salah satu kelemahan tentang peralihan kepemimpinan selama ini dalam setiap pemilu, sehingga mengamputasi visi misi demokrasi.
Secara spesifik tentang kepemiluan sekarang masih didominasi oleh kampanye pilpres di bandingkan dengan partai politik dan caleg, apa lagi anggota DPRD dan kepala daerah yang jarang berbicara atas nama kepentingan rakyat.
"Melihat fenomena demikian, kita ingin merubah sehingga konsep dan gagasan dari partai politik atau kandidat bisa terdistribusi kepada masyarakat secara merata. Melalui proses pembangunan daerah yang berkelanjutan lewat program visi dan misi," ujar mantan Ketua KPU Sulawesi Tenggara itu.
Tak hanya itu, pemilih cerdas sangat dibutuhkan untuk memberikan pendidikan politik. Masyarakat jangan masa bodoh dengan keadaan sekarang, karena mandat rakyat bukan hanya pada saat momentum, tetapi lebih berkelanjutan agar kualitas demokrasi semakin baik.
Hidayatullah menambahkan, lewat momentum ini, kolaborasi ekosistem kecerdasan dari setiap pegiat demokrasi harus diperkuat dalam menghadapi Pemilu 2024. Bupati dan gubernur juga harus tahu visi dan misi apa yang dibangun ke depan, jangan hanya tahu duduk.
