Pieter yang rajin berbagi foto-foto dan informasi perkembangan Hila di face book atau grup wa. Kunjungan serta bantuan berupa uang terus mengalir masuk langsung ke rekening Hila yang disebar Pieter.

Dengan kepedulian teman-teman beda etnis dan agama di Kupang (NTT), Surabaya (Jatim), dan seputar Jakarta, sepekan setelah dirawat, Hila dapat keluar dari rumah sakit. Kemudian, ia ditempatkan oleh Pieter dan keluarga di sebuah bilik kos di sebuah gang di Tegalan, Matraman, Jakarta Pusat (Jakpus). Selanjutnya, dengan BPJS ia rutin kontrol di sebuah rumah sakit swasta tak jauh dari rumah kosnya.

Makan bergizi dan “berkhasiat” setiap hari disuapkan kepada Hila oleh Pieter, putra bungsu, dan istrinya, Ny. Yuliana. Mereka bertiga setiap hari bergantian sengaja datang ke kamar kos Hila, untuk  merawatnya. Saat itu mau duduk saja harus disandarkan. Kepadanya dikenakan pampers, agar kotorannya tak “kucar-kacir” ke mana-mana. Pipisnya lewat selang kateter dialirkan ke “urine bag”.

Kuasa Allah Sang Mahapentu bekerja. Delapan belas hari kemudian, Hila sudah mampu bangkit. Dia berjalan kaki dengan walker. Sesekali, bahkan, ia mampu berjalan  mengunakan “tongkat kaki tiga”  di depan rumah kosnya. Kantong plastik pipis tetap menempel menggelantung di paha kaki kanannya.

Persoalan baru, muncul. Penghuni kamar kos yang lain protes karena merasa terganggu dengan kehadiran Hila sejak ia jadi penghuni di salah satu kamar kos di situ. Toh kegembiraan atas kemajuan kesehatannya, tak dapat ditutupi.