Sedangkan, jika bersama Prabowo Subianto ini menunjukkan bahwa PDI-P lebih memikirkan untuk membangun kebersamaan lebih akrab dengan Prabowo Subianto dan Gerindra, tanpa terlalu memikirkan kans kalah kembali seperti Pilpres 2009 lalu dengan mengusung Megawati Soekarno Putri-Prabowo Subianto sebagai pasangan dalam Pilpres tersebut.
Hal berbeda jika PDI-P berkoalisi berpasangan dengan Anies Baswedan, ini menunjukkan bahwa koalisi ini dibangun atas kepentingan pragmatis dengan balutan persatuan Indonesia. Ketiga gambaran peluang Puan Maharani ini menunjukkn Puan Maharani lebih menarik diusung sebagai pasangan dari ketiga sosok yang memiliki elektabilitas tinggi tersebut.
Meski begitu, tentu saja sangat disayangkan jika Puan Maharani adalah sebagai Cawapres semata. Sebab, saat ini merujuk hasil Pemilu serentak 2019 lalu bahwa PDI-P sendiri merupakan satu-satunya partai yang memenuhi persyaratan ambang batas untuk mengajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden atau memenuhi presidential threshold.
Puan Maharani pun telah membantah dengan merespons dalam pernyataan tegas sebagai Ketua DPP PDI-P bahwa partainya akan mengajukan calon presiden pada Pilpres 2024. Puan menyadari bahwa berdasarkan hasil survei elektabilitas dirinya sebagai Capres masih di bawah angka 5 persen, oleh sebab itu Puan juga menyatakan jangan terpengaruh dan berpegangan pada hasil survei, yang terpenting adalah kerja, kerja, kerja, sambil menunggu keputusan resmi dari Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnpotri.
Puan menyadari bahwa dirinya jika akan dimajukan dalam Pilpres 2024 mendatang, ia lebih didorong dan diprioritaskan sebagai calon wakil presiden mendampingi di antara ketiga calon teratas dalam berbagai hasil survei. Sebab, ia adalah calon terkuat dalam Pilpres 2024 sebagai calon wakil presiden.
