Mengutip National geographic.grid.id, studi baru mengungkapkan bahwa hewan laut yang disebut salp memainkan peran yang sangat besar dalam meredam dampak gas rumah kaca.

Studi yang dipimpin oleh Dr. Deborah Steinberg dari William & Mary's Virginia Institute of Marine Science, muncul dalam edisi terbaru jurnal Global Biogeochemical Cycles. Ini melaporkan penelitian yang dilakukan sebagai bagian dari EXPORTS (EXport Processes in the Ocean from RemoTe Sensing), program lapangan multi-lembaga selama 4 tahun yang didanai oleh NASA.

Rekan penulis berasal dari institut kelautan di Maine, Bermuda, California, Newfoundland, British Columbia, dan Alaska. Hewan hanyut kecil yang disebut zooplankton memainkan peran kunci dalam pompa dengan memakan fitoplankton, yang memasukkan karbon dari karbon dioksida ke dalam jaringan mereka selama fotosintesis, kemudian mengekspor karbon itu ke kedalaman.

Tiga fitur menarik perhatian tim pada salp, dan S. aspera pada khususnya. Salah satunya adalah organisme ini dapat bereproduksi secara aseksual, dengan cepat mengkloning menjadi mekar yang sangat besar di bawah kondisi yang tepat.

Kedua, S. aspera lebih besar dan menyaring lebih banyak air daripada kebanyakan zooplankton lainnya, sehingga menghasilkan pelet tinja yang lebih besar dan lebih berat. Ketiga, ia bermigrasi ke atas dan ke bawah melalui air setiap hari, naik untuk memakan fitoplankton pada malam hari dan terbang ke kegelapan abadi laut dalam selama jam-jam yang diterangi matahari untuk menghindari pemangsanya sendiri, termasuk penyu, burung laut, dan ikan.