Virus tersebut menjadi pemicu krisis kesehatan dan ancaman resesi ekonomi global hari ini. Setelah diumumkan sebagai pandemi global, dunia seakan-akan berhenti bernapas (stop breathing) dan merubah jalan hidup tidak terkecuali bisnis.
COVID-19 seakan menjadi penyebab transformasi bisnis. Hal ini memberikan gambaran bahwa perubahan sedang terjadi. Dengan terjadinya revolusi industri 4.0 mendorong proses perubahan menjadi semakin cepat tetapi dengan kehadiran pandemi COVID-19 seolah memberi jeda.
Namun sesungguhnya mengubah perilaku manusia sampai kepada aspek the most basic. Mulai dari proses kerja, strategi bisnis hingga hal-hal paling mendasar seperti interactions change. Tidak semua siap dan kebanyakan tidak siap, namun itulah realita hari ini yg perlu dihadapi bersama.
McKinsey & Company dalam laporan analisisnya bahwa setidaknya bisnis akan mengalami tiga metamorfosis ketika mengalami krisis: (1) depth of disruption, (2) length of disruption, dan juga (3) recovery (https://www.mckinsey.com, 5 Oktober 2020).
Metamorfosis pertama depth of disruption atau kedalaman disrupsi dalam artiannya adalah seberapa besar hal-hal yang berubah saat terjadi wabah. Sebagai contoh, perilaku orang-orang tidak lagi bepergian untuk berwisata ataupun sekedar mencari makan, pengurangan waktu kerja, efisiensi barang-barang yang digunakan sehari-hari.
