Motif tenunnya terdiri dari kaghati (layangan), lampu pelita, kuda berkelahi, kambe-kambera (kupu-kupu), kolipopo (bintang), leko (keris pusaka Raja Muna), kontukowuna (batu berbunga), polangkuno kapunda (tangga belalang) dan ewo balano (ombak besar).
Biasanya, untuk kalangan pejabat seperti bupati, kerap memesan motif leko dan ewo balano. Untuk motif warnanya menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan. Seperti kulit bakau, daun mangga, kulit pohon nangka. Prosesnya, kulit dan daun pohon-pohon itu direbus. Kemudian, airnya disaring, lalu benang direndam. Agar tidak luntur, benangnya setelah direndam, diikat menjadi satu lalu dijemur.
Beda lagi dengan pewarna kimia. Dimana, benang dicampur dengan wanteks. Prosesnya juga sama, dijemur.
Waktu pembuatan kain tenun bervariasi. Tenun motif biasa dikerjakan sampai seminggu. Sedangkan motif menggunakan pewarna alami antara dua minggu hingga sebulan. Kain tenun yang dihasilkan berukuran lebar antara 60-70 Cm dan panjang 360-370 Cm (ukuran satu lembar baju). Benang yang digunakan satu kain, satu lusin.
Tentunya, beda kualitas, beda harga. Motif tenun biasa dibanderol mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 800 ribu. Sementara, motif bercorak dengan pewarna alami dan kimia dihargai antara Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta.
