Kemampuannya dalam bernegosiasi dan mengatur strategi membuat Nasrallah terus dipandang sebagai ancaman oleh Israel.
Namun, popularitas Nasrallah tidak selalu berada di puncak. Dukungan Hizbullah terhadap rezim Bashar al-Assad selama perang saudara di Suriah sejak 2011 membuatnya kehilangan dukungan di beberapa kalangan.
Banyak pihak yang menilai bahwa dukungan Hizbullah terhadap Assad merusak citra perlawanan yang selama ini dibangun Nasrallah. Namun, posisinya kembali menguat setelah operasi “Banjir Al-Aqsa” yang dilancarkan oleh kelompok Palestina terhadap pemukiman Israel pada 2023.
Kematian Nasrallah, jika benar-benar dikonfirmasi, akan menjadi pukulan besar bagi Hizbullah dan dunia perlawanan di Lebanon. Nasrallah bukan hanya seorang pemimpin militer, tetapi juga sosok ideologis yang mengarahkan strategi Hizbullah selama lebih dari tiga dekade.
Baca Juga: Lima Inovasi Diklaim Tiongkok dari Zaman Dahulu, Sekarang Ada Dimana-mana
