Riset pengembangan teledermatologi pediatri juga melibatkan unsur AI untuk membantu dokter menegakkan diagnosis dan melakukan tata laksana penanganan penyakit.

Baca Juga: Inggris Gunakan Robot AI jadi Asisten Kepsek dan Guru

“AI sebenarnya sudah banyak dimanfaatkan untuk dunia medis. Namun, untuk kasus dermatologi, AI masih terbatas digunakan utamanya untuk diagnosis penyakit,” ujar Nur.

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa penelitian yang ada sebagian besar pengembangan AI masih berfokus pada deteksi kanker kulit dini dan beberapa penyakit kulit khas yang terbatas jumlahnya. Oleh karena itu, riset pengembangan teknologi tersebut menjadi sebuah tantangan besar yang melakukan pembangunan sistem diagnosis berbasis AI untuk dapat mengenali lebih dari 50 penyakit sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI).

“Secara teori, itu adalah high dimensional classification yang tentunya bukan hal mudah untuk dimodelkan,” kata Nur. (C)