KENDARI, TELISIK.ID - Islam memang mengajarkan sikap toleransi. Dalam Islam, toleransi bermakna membiarkan umat lain menjalankan ritual agamanya, termasuk perayaan agamanya. Toleransi juga bermakna tidak memaksa umat lain untuk memeluk Islam.
Muballigh Sultra, Ustadz Muhammad Yasin, S.Pd., M.Pd mengatakan, toleransi dalam Islam itu bukan berarti menerima keyakinan yang bertentangan dengan Islam.
Sebagaimana yang disampaikan Imam asy-Syaukani dalam Tafsir Fath al-Qadîr menyatakan, Abdu ibn Humaid, Ibnu al-Mundzir dan Ibnu Mardawaih telah mengeluarkan riwayat dari Ibnu ‘Abbas bahwa orang Quraisy pernah berkata kepada Rasul SAW, “Andai engkau menerima tuhan-tuhan kami, niscaya kami menyembah tuhanmu.” Menjawab itu, Allah SWT menurunkan firman-Nya, yakni Surat al-Kafirun, hingga ayat terakhir, "Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku," (TQS al-Kafirun: 6).
"Rasulullah SAW pun tegas tidak mau berkompromi untuk melakukan ‘toleransi’ dalam bentuk terlibat, memfasilitasi apalagi mengamalkan ajaran agama lain," katanya belum lama ini.
Sebagaimana Imam al-Qurthubi di dalam Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân (20/225) mengungkapkan, ketika masih di Makkah, suatu ketika beberapa tokoh kafir Quraisy menemui Nabi SAW. Mereka adalah Al-Walid bin Mughirah, Al-‘Ash bin Wail, Al-Aswad Ibnu al-Muthallib dan Umayyah bin Khalaf.
