Orangtua bijak sering pula mengingatkan kepada anak-anaknya, “Segala sesuatu itu dimulai dari rumah.”

Polisi itu memang sudah dari “sononya” adalah sosok “dua wajah”. Tentang hal ini, Satjipto  menggambarkan, polisi merupakan bagian dari birokrasi, yang paling intensif melakukan pertukaran dengan lingkungan sosialnya. Hal itu karena dalam menjalankan tugasnya, polisi bergaul sangat intensif dengan orang-orang di sekelilingnya (Asy’ari, ed. 2002: 147).

Secara sederhana, Irjen Pol. Tomsi Tohir (Kapolda Banten, 2018-2019) dalam Menjalankan Kepemimpinan Kepolisian Berbasis Silaturahmi di Banten menggambarkan, “…dalam kehidupan sehari-hari, apa yang tidak menjadi urusan polisi? Orang mau tidur, dia patroli.

Malam rumahnya kecurian, ketemu lagi dengan polisi. Nganter anak ke sekolah ketemu polisi. Mau daftar apa-apa perlu SKCK, ketemu polisi. …Frekuensi masyarakat ketemu polisi itu tinggi. Jadi, masyarakat paling mudah memotret institusi polisi” (Suryadi dkk, 2019: 45).

Kian jelas lah sosok polisi. Selain merupakan bagian dari birokrasi, polisi juga sosok manusia yang intens bersama masyarakat lengkap dengan ragam persoalan. Tulisan ini mencoba membahas Tokom sebagai sebuah simbol pemimpin di Polri.