BUTON, TELISIK.ID - Pesta panen atau Bongkaano Khopo di Desa Waoleona, Kabupaten Buton, merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan setiap akhir tahun. Desa ini, berbatasan langsung dengan Kabupaten Buton Utara, memiliki 266 KK dan luas wilayah 15,60 Km. Dengan 704 jiwa penduduk, mayoritas bekerja sebagai petani dan nelayan.

Tokoh Adat Desa Waoleona, Sarman menuturkan bahwa Pesta syukuran adat, Bongkaano Khopo, dimulai setelah panen padi. Sebelum menikmati hasil panen, masyarakat harus menyetor sebagian kepada Kesultanan Buton sebagai upeti. Namun, keputusan seseorang untuk menghentikan penyetoran dengan alasan jarak tempuh yang sulit mengubah tradisi ini. Upeti kemudian dirayakan secara lokal sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas rezeki, umur panjang, dan kekuatan baik fisik maupun mental.

La Ode Poko, keturunan Sultan Buton XX, Himayatuddin Muhammad Saidi (Opita Yi Koo, di mana ia memerintah dua periode yaitu periode pertama di tahun 1750-1752 dan periode ke dua menjabat sebagai Sultan XXIII yaitu di tahun 1760 dan Oputa Yi Koo ini baru saja dianugrahi gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Baca Juga: Pesona Pantai Lakeba, Surga Tersembunyi di Tepi Kota Baubau

La Ode Poko memainkan peran kunci dengan menahan upeti. Meskipun disertai perjalanan panjang dan pengelolaan upeti di wilayahnya, La Ode Poko diputuskan untuk tinggal di luar Keraton.