KENDARI, TELISIK.ID - Program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, menjadikan perpustakaan sebagai ruang terbuka bagi masyarakat untuk saling berbagi pengalaman, belajar kontekstual, dan berlatih keterampilan kerja untuk peningkatan kualitas hidup.

Program ini sudah ada sejak 2018 dan telah berhasil dipraktikkan pada 21 perpustakaan provinsi, meliputi 60 perpustakaan kabupaten/kota, dan 300 perpustakaan desa dan kelurahan.

"Program ini telah diakui efektif dalam memberikan manfaat untuk kesejahteraan masyarakat, utamanya bagi masyarakat marginal atau warga di desa yang selama ini terpinggirkan dan diartikan sebagai kelompok prasejahtera," terang Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Ofy Sofiana dalam sambutannya pada pembukaan talk show peningkatan indeks literasi masyarakat untuk kesejahteraan di Perpustakaan Modern Sulawesi Tenggara, Selasa (2/8/2023).

Baca Juga: Tingkatkan Literasi untuk Kesejahteraan Masyarakat Sulawesi Tenggara

Ia juga menjelaskan, paradigma perpustakaan telah berubah mengikuti perkembangan yang terjadi. Paradigma perpustakaan saat ini menuju sumber daya dan upaya perpustakaan dengan proporsi 10  persen untuk menajemen koleksi, 20 persen untuk menajemen pengetahuan dan 70 persen untuk transfer pengetahuan.