“Itu sudah dibayar semua, makanya pihak Kementerian Arab Saudi meminta maaf,” katanya.
Adapun berbagai masalah pelayanan seperti makanan yang dianggap kurang layak, bus pengangkut yang terlambat hingga jemaah yang tidak muat di tenda saat mabit di Muzdalifan dan Mina, menurut Marni disebabkan jemaah yang membludak.
Menurutnya pelayanan buruk tersebut bukan hanya dirasakan oleh jemaah Indonesia, tapi juga jemaah negara lain. Meski begitu, ia memastikan seluruh jemaah Sulawesi Tenggara tak mengalami pengalaman buruk seperti yang beredar di media sosial.
Marni melaporkan, ada 2.166 jemaah haji dari Sulawesi Tenggara yang terdiri dari 2.019 jemaah dan 147 jemaah tambahan, jumlah tersebut tergabung dalam kloter 24, 25, 27, 28, 30, 31 (gabungan dengan jemaah daerah lain), dan 42 (tambahan).
Kloter ke-24 diperkirakan akan tiba di Kota Kendari sekitar 23 Juli 2023. Mereka akan meninggalkan Arab Saudi dan sampai di tanah air pada 21 Juli, sebelum akhirnya bertolak ke Makassar lalu Kendari.
