Selanjutnya, setan pun datang juga kepada saudara yang lainnya dan menyampaikan kabar yang sama. Semuanya merasa kaget atas mimpi itu sebab mereka memimpikan hal yang sama. Saudara yang paling besar berkata, “Ah itu kan hanya mimpi. Tidak ada apa-apanya, sudah jangan kalian hiraukan dan kita biarkan saja!” saudara yang paling kecil berkata, “Demi Tuhan, saya tidak akan tenang kecuali setelah membuktikan tempat yang ditunjukkan itu.” 

Maka ketiganya berangkat untuk mendatangi rumah bekas hunian adik wanita mereka. Mereka membuka pintu rumah tersebut, dan mencari tempat yang disebutkan oleh setan kepada mereka di dalam mimpi.

Ternyata, mereka menemukan saudara wanita dan anaknya disembelih dan diletakkan di tempat itu. Selanjutnya, mereka datang kepada sang ahli ibadah dan bertanya kepadanya tentang keadaan sebenarnya. Maka, ia membenarkan apa yang dikatakan oleh setan tadi, yaitu dirinyalah yang membunuhnya. Selanjutnya, tiga saudara wanita tersebut mengadukan masalahnya kepada raja mereka. Mereka membawa turun si ahli ibadah dari kediamannya. Sang ahli ibadah dituntut untuk dibunuh dan disalib.

Ketika si ahli ibadah sudah diikat di atas kayu untuk dibunuh, datanglah setan kepadanya dan berkata, “Saya ini sahabatmu yang mengujimu dengan perempuan yang engkau hamili dan bunuh itu. Jika engkau ikuti perintahku hari ini dan kafir kepada Allah subhanahu wa ta'ala yang telah menciptakan dan membantumu, saya akan menyelamatkanmu dari bahaya yang sedang engkau hadapi ini.” Si ahli ibadah itu mengiyakan anjuran setan, yaitu kufur kepada Allah ta'ala. 

Ketika ia telah kafir, setan meninggalkannya, dan orang-orang membunuhnya. Maka matilah si ahli ibadah sebagai orang kafir su’ul khotimah ahli neraka.