Dalam kisah tersebut, fitnah terjadi bukan disebabkan karena eksistensi wanita, tetapi disebabkan oleh relasi (hubungan) antara laki laki dan perempuan yang dibalut oleh nafsu syahwat dan disertai oleh godaan setan.
Dikutip dari almanhaj.or.id, Al-Ustaz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas mengatakan bahwa: Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu‘alaihi Wa Sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.”
Takhrij hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh: Muslim [no. 2742 (99)], Ahmad (III/22), an-Nasâ`i dalam as-Sunanul-Kubra (no. 9224), Ibnu Hibban (no. 3211-at-Ta’lîqâtul-Hisân), al-Baihaqi (VII/91), ath-Thahawi dalam Syarh Musykilul-Âtsâr (no. 4326), al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah (no. 2243), dan lainnya.
Semua bentuk kelezatan dunia merupakan ujian dan cobaan. Tetapi, yang terbesar dan terkuat yaitu fitnah wanita, karena fitnah mereka sangat besar. Terjatuh dalam fitnah wanita sangat berbahaya. Para wanita adalah perangkap dan tali-tali setan.
Betapa banyak setan telah menjerumuskan laki-laki yang menjaga dirinya dari fitnah wanita tersebut. Namun akhirnya terikat dan terjebak dalam kubangan syahwat, terus-menerus berbuat dosa, dan sulit untuk melepaskan diri darinya. Dosa-dosa itu menjadi tanggungannya, karena dia yang tidak menjaga dirinya dari ujian tersebut.
