Oleh: Indarwati Aminuddin
Ombudsman Telisik.id
SEPUCUK surat pembaca datang saat Tempo tengah gencar meliput skandal Badan Urusan Logistik (Bulog) pada pertengahan 2000. Namanya hanya “Debbie,” tanpa nama lengkap dan alamat, kecuali keterangan “WNI keturunan.” Debbie memrotes Tempo edisi 14 Mei 2000 karena menggambarkan Suwondo, seorang pembantu Presiden Abdurrahman Wahid, yang dicurigai terlibat skandal itu, sebagai, “seorang Cina Muslim ... dialah Alif Agung Suwondo alias An Peng Sui.”
Debbie menulis, “Kalimat itu menunjukkan bahwa Tempo memperlihatkan dirinya sebagai media yang tidak dewasa. Apakah Suwondo WNA (Warga Negara Asing)? Mengapa ditulis Cina? Bukankah dia tinggal di Indonesia? Sampai kapan perpecahan di Indonesia berhenti kalau media massa mempergunakan ras sebagai bumbu pelengkap cerita?”
Debbie tak berhenti hanya pada Tempo. Kritiknya juga diarahkan pada kebanyakan media Indonesia yang kerap menuliskan etnis Cina sebagai WNI keturunan Cina atau orang Tionghoa. Namun apabila menyangkut suku bangsa lain, hanya diberi kata-kata “di darahnya mengalir darah Belanda, ayah/ibu dari Ceko, atau Indo.”
