Corona Bisa Hidup di Testis Pria, Penyebab Laki-laki Rentan COVID-19

Muhammad Israjab

Reporter

Kamis, 23 April 2020  /  10:36 am

Temuan peneliti, corona bisa hidup di testis pria, penyebab laki-laki rentan COVID-19. Foto: obat herbal tetstis tradisional

KENDARI, TELISIK.ID - Studi berjudul "Delayed clearance of SARS-CoV2 in male compared to female patients: High ACE2 expression in testes suggests possible existence of gender-specific viral reservoirs" menyebut, virus corona dapat hidup dan bertahan di testis pria.

Temuan itu dianggap menjadi alasan mengapa pria lebih banyak terkena COVID-19 daripada wanita. Dilansir Metro, studi ini menjelaskan, virus terikat dengan protein dalam tubuh yang ditemukan di paru-paru, usus, dan jantung.

Begitu pula pada testis. Virus mengikat sel-sel yang mengandung protein ACE2 atau enzim pengonversi angiotensin 2. Oleh karena itu, virus memiliki kemungkinan untuk hidup di testis pria.

"Kandungan ACE2 RNA dan protein yang tinggi dalam testis mengarah pada hipotesis bahwa ada kemungkinan virus bertahan lama di testis." di kutip dari laman wartakotalive.com.

"Testis mungkin memiliki kaitan terhadap persistensi virus, dan harus diselidiki lebih lanjut oleh studi klinis yang lebih besar," tulis peneliti.

Hasil penelitian tersebut tampak relevan dengan data statistik negara. Berdasarkan Office for National Statistics (ONS), pria di Inggris memiliki tingkat kematian sebesar 1.728,2 per 100.000 orang akibat COVID-19.

Sementara itu, wanita memiliki tingkat kematian sebesar 840,9 per 100.000. Itu berarti, kematian pria akibat virus corona dua kali lipat daripada wanita.

Selain mengenai keterkaitan dengan organ vital pria, studi juga mengungkap berapa lama virus bisa bertahan pada pria dan wanita. Studi melibatkan 48 pria dan 20 wanita yang tinggal di Mumbai dan telah terinfeksi COVID-19.

Baca juga: Dua Ekor Kucing di New York Positif Terjangkit COVID-19

Hasilnya, wanita membutuhkan rata-rata empat hari untuk bersih dari infeksi virus. Sedangkan pria membutuhkan waktu enam hari, 50 persen lebih lama. Meskipun begitu, studi ini belum ditinjau oleh peneliti lainnya. Beberapa ahli juga meragukan temuan tersebut.

Dilansir Daily Mail, Ian Jones, profesor virologi dari University of Reading, mengemukakan argumennya sendiri mengenai potensi pria sebagai jenis kelamin yang lebih rentan terhadap serangan COVID-19.

"Pria umumnya lebih buruk daripada wanita dalam hasil imunologis, mungkin akibat dari hanya satu kromosom X," kata Jones.

Sementara itu, profesor virologi molekuler di Nottingham University, Jonathan Ball, turut menambahkan pendapatnya.

Ball menyebut, penelitian lain telah menguji air mani penderita virus corona. Dari hasil penelitian, belum ada satu pun yang menunjukkan bahwa testis merupakan tempat virus berada.

Memar dan Ruam yang mengeras pada kaki bisa jadi gejala COVID-19. Memar keunguan yang tampak seperti cacar air, campak, atau chilblain pada jari kaki bisa menjadi gejala virus corona, menurut dokter Spanyol dan Italia.

Pernyataan itu didasarkan pada pasien dengan luka memar, terutama pada anak-anak dan remaja di Spanyol, Italia, dan Prancis. Pasien dengan kondisi tersebut dinyatakan positif COVID-19.

Dilansir Metro, kasus awal terjadi pada seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun di Italia. Dia mengalami luka pada kulit kaki.

Luka tersebut mengeras hingga meletus. Awalnya, itu dianggap berasal dari gigitan laba-laba.

Dua hari kemudian, sang bocah mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, gatal-gatal hebat, dan rasa terbakar pada lesi kaki.

Ia pun dilarikan ke rumah sakit pada 8 Maret 2020 lalu.

Karena wabah corona sedang menyelimuti Italia, bocah tersebut tidak menjalani tes virus corona.

Namun, pada 29 Maret 2020, lima minggu setelah kasus pertama COVID-19 di Italia, laporan resmi pertama tentang lesi pada anak-anak sebagai gejala COVID-19 pun muncul.

Baca juga: Strategi Pertahankan Usaha di Tengah Wabah COVID-19

Kini, satu dari lima pasien di rumah sakit Italia menunjukkan kondisi dermatologis yang aneh. Seorang ahli dermatologi anak di Bari, Mazzotta Troccoli, mengatakan, gejala tersebut sudah menjadi hal yang umum di Italia.

"Jika pengamatan lebih lanjut dari data laboratorium mengkonfirmasi bahwa ada gejala baru COVID-19, tanda dermatologis ini dapat berguna untuk mengidentifikasi anak-anak dan remaja," tulis Troccoli dalam sebuah pernyataan.

Umumnya, virus corona mempengaruhi fungsi paru-paru. Kemudian, batuk muncul terus-menerus. Penderita pun mengalami masalah pernapasan dan demam tinggi.

Selain itu, ada juga laporan terkait diare terus-menerus, nyeri testis, hingga hilangnya fungsi indra perasa dan pembau sebagai gejala COVID-19.

Oleh karena itu, Dewan Umum Resmi Sekolah Tinggi Podiatris Spanyol masih menyelidiki kemungkinan gejala baru dari lesi kaki ini.

Dewan telah membuka database kemungkinan kasus COVID-19.

Mereka menyelidiki kasus pasien yang mengalami luka dan memar pada kaki.

"Banyak kasus sedang diamati di berbagai negara, seperti Italia, Prancis, dan Spanyol," Dewan menyatakan, yang memiliki 7.500 anggota.

"Ini adalah temuan yang aneh bagi dokter kulit dan ahli penyakit kaki. Gejala yang sama semakin banyak terdeteksi pada pasien COVID-19, terutama anak-anak dan remaja, meskipun beberapa kasus juga telah terdeteksi pada orang dewasa," jelasnya.

Dewan menjelaskan, kemungkinan gejala baru ini adalah lesi berwarna keunguan seperti memar. Biasanya, luka muncul di sekitar jari kaki dan sembuh tanpa meninggalkan bekas pada kulit.

Dewan Podiatris pun mendesak perguruan tinggi dan jajarannya untuk sangat waspada dengan gejala dan membantu menghindari penularan.

"Dewan ingin menyampaikan pesan kepada para orang tua dan orang-orang, karena sifat lesi ini tampaknya jinak. Mereka harus memantau gejala COVID-19 lainnya, seperti batuk, demam, dan gangguan pernapasan," Dewan menerangkan.

Tak hanya itu, Dewan juga memperingatkan kepada siapa pun yang memiliki luka pada kaki untuk wajib mengisolasi diri, jika ada perkembangan gejala corona selanjutnya.

Orang tua dianjurkan untuk mengisolasi anak mereka yang memiliki gejala dan mengontrol suhu tubuh anak secara berkala. Meskipun lesi bersifat jinak, perlu bertindak hati-hati karena lesi memungkinkan untuk menjadi pembawa COVID-19.

"Untuk menghindari penularan, tidak dianjurkan untuk pergi ke pusat perawatan primer dan rumah sakit hanya karena adanya lesi pada kulit," Dewan memperingatkan.

Pernyataan Dr Randy Jacobs, asisten profesor klinis dermatologi di University of California, mendukung kemungkinan gejala baru Corona berupa luka memar pada kaki.

Dalam pernyataannya pada The Hospitalist, gejala COVID-19 dapat berupa penyumbatan pembuluh darah kecil atau pembekuan darah.

Reporter: Muhammad Israjab

Editor: Rani