Di antara mutasi-mutasi pada penghujung Oktober 2021, terdapat mutasi-promosi menyusul pensiunnya Kepala Badan Intelijen Keamanan (Kaba Intelkam), Komjen Pol. Paulus Waterpau (Akpol 1987). Waterpau, putra Papua, digantikan oleh Irjen Pol. Ahmad Dofiri, Kapolda Jabar, yang mengawali karirnya di reserse-intel (resintel, 1990) ketika baru mengakhiri pendidikan di Akpol 1989.

Dengan begitu, di pucuk pimpinan Intelkam Polri, Dofiri yang lulusan terbaik/peraih Adhimakayasa Akpol 1989, berduet dengan juniornya, Irjen Pol. Merdisyam (Akpol 1991, mantan Kapolda Sultra yang kini masih Kapolda Sulsel. Merdi masuk ke teras utama Polri sebagai Wakabaintelkam menggantikan Irjen Pol. Suntana (Akpol 1988) yang bergeser ke Jabar menggantikan Dofiri. Sosok Dofiri dan Merdi, boleh dibilang, “wajah baru, stock lama” dalam dunia intelijen Polri.

Mutasi dapat dibaca sebagai bagian penting dari cita-cita perubahan. Demikian pula, mutasi-mutasi di tubuh Polri, perubahan tentu bukan sekadar pada bentuk, tapi lebih jauh lagi substansial; perubahan kutural yang menjadi ruh dan kekuatan organisasi.

Baca Juga: Inovasi Manajemen Perubahan pada Pengawasan Vote Buying

Baintelkam adalah komponen penting dan strategis dari Polri di negara modern Indonesia. Lantas ke depan, model dukungan besar macam apa yang diharapkan dari Intelkam menuju Polri polisi sipil?