Baca juga: Ketua Umum DPP KNPI Minta Kejati Periksa Gubernur Sultra
Itu pun, kata dia, masih terbilang pendapatan kotor, karena belum dipotong untuk biaya bensin, juga makan dan minum dalam seharinya.
"Kalau beruntung dapat Rp 200 ribu seharinya, tapi itu belum dibelikan bensin. Untuk bensin saja Rp 120 ribu, yaa, tinggal Rp 80 ribu, belum lagi untuk makan dan lain-lain. Untung ini mobil sendiri, bagaimana yang sewa mobil orang," urainya.
Tak sampai di situ, persaingan transportasi juga ikut menyumbang kurangnya penumpang sopir Angkot. Dalam hal ini, menjamurnya transportasi online.
"Persaingan dengan kendaraan online juga berdampak sama pendapatan Angkot," bebernya.
