Kata dia, tambak yang banyak stop produksi berada Desa Latowu, Kecamatan Batu Putih karena sungai yang selama ini dimanfaatkan penambak mengairi kolam mereka terdampak limpasan dari aktivitas pertambangan.

"Limpasan itu yang membuat air keruh dan berwarna merah," terangnya.

Sementara itu, salah satu pekerja tambak di Desa Latowu, Nanang (35) tetap bertahan mengelolah tambak yang ia miliki seluas 1,5 Ha dengan kondisi air tambak berwarna kemerahan meski keuntungan tipis dengan cara memanen lebih awal.

"Dulu itu sekali panen bisa capai Rp 40 juta hingga Rp 50 juta. Sekarang jutaan saja lantaran kadang banyak yang mati dan juga timbangan kurang karena cepat panen. Seharusnya belum waktunya tapi jangan sampai mati sehingga dipanen cepat," bebernya.

Baca Juga: Mobil Bermuatan Pekerja Jaringan Indosat Asal Sulawesi Selatan Terguling di Kolaka Utara