Beberapa PSK sedang mangkal menunggu pelanggan di dekat Stasiun Tanah Abang, potret Tanah Abang di malam hari. Foto: Mustaqim/Telisik

 

Pusat penjualan pakaian dan tekstil Tanah Abang sejak dulu dikenal ramai dan dianggap sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Berdasarkan catatan sejarah, Pasar Tanah Abang sudah berusia hampir tiga abad atau telah ada pada masa kolonial Belanda. Tepatnya mulai didirikan pada 30 Agustus 1735 oleh Yustinus Vinck atas izin Gubernur Jenderal Abraham Patras.  

Aktivitas pedagang pakaian dan tektil yang menjual dagangannya di Pasar Tanah Abang hingga ke simpangan Cideng Barat, mulai terlihat menjelang pagi hari sekitar pukul 05:00 WIB. Mereka menggelar dagangan hingga sore hari sebelum magrib. Selepas magrib saat malam menjemput, aktivitas perdagangan pakaian digantikan oleh aktivitas perdagangan “di balik pakaian.”

Baca Juga: Jakarta Undercover: Potret Kehidupan Malam Bisnis Prostitusi di Jakarta, Panjat Tembok Dulu Sebelum Bercinta

Aktivitas perdagangan “di balik pakaian” ini merupakan bisnis prostitusi yang mudah ditemukan di sekitar pasar dan Stasiun Tanah Abang. Stasiun Tanah Abang sendiri mulai beroperasi sejak tahun 1899. Belum diketahui secara pasti sejak kapan bisnis prostitusi dimulai di kawasan tersebut.