Perjuangan Pince melahirkan di hutan bukanlah hal luar biasa bagi perempuan-perempuan suku Mairasi. Jauh sebelum Pince, perempuan-perempuan Mairasi telah berdiri sesuai garis adatnya. Perempuan merayakan kelahiran anak dengan cara mengucilkan diri dalam hutan, dan sang suami menjauhinya hingga sebulan lebih.

Baca juga: Jurnalisme Sastrawi: Kapan Bisa Berteriak Merdeka?

“Tidak boleh ada lelaki,” kata Oktovina Waropen, bidan yang bertugas di pedalaman suku Mairasi. “Rambut laki-laki segera beruban, gigi rontok dan ia kehilangan kekuatan bila mendampingi perempuan melahirkan.”

Oktovina memulai tugas pertamanya pada 1996 di pelosok suku Mairasi menetap. Malam hari, seperti warga lain, ia menyalahkan api damar dan setelah makan malam segera mematikan api damar itu. Tugas pertamanya adalah mendampingi persalinan dalam gubuk tengah hutan yang berjarak 10 kilometer dari kampung. Gubuk itu, rumah kayu kecil tanpa jendela, tertutup rapat  disediakan bagi perempuan yang hendak melahirkan.

Saat memasuki rumah kecil tersebut, Oktovina diwajibkan melepaskan pakaiannya. “Saya harus mengenakan baju kayu tumbuk, tak ada pilihan itu adat mereka,” ujarnya. Ia juga wajib mencuci tangannya dari air dari bambu.