Selesai tawaf, Wayan melihat sebuah lantai yang rupanya persis seperti yang pernah ia mimpikan sebelum dirinya masuk Islam. Ia pun bertanya kepada pimpinan imam Masjidil Haram, sang imam mengatakan lantai tersebut adalah penutup sumur air zam-zam.

Menjawab arti mimpi tersebut, Wayan diajak menemui ketua lembaga mualaf di Madinah. Di sana ia dititah untuk mendirikan mualaf center dan membimbing para mualaf di daerahnya.

Baca Juga: Pembinaan Mualaf di Mualaf Center Sulawesi Tenggara

Hanya berbekal tekad, ia mendirikan mualaf center dan mencari data para mualaf di seluruh penjuru Sulawesi Tenggara. Wayan punya tujuan besar untuk menjadi teman terdekat yang bisa membimbing para mualaf untuk menjalani kewajiban sebagai seorang muslim.

“Saya tidak butuh pengakuan, yang jelas apa yang saya lakukan memastikan mualaf menjalankan salat dan perjuangkan hak-hak mereka sebagai salah satu penerima asnab zakat,” katanya.