Tapi lain lagi dengan pemimpin berotak pendek. Berciri egoisme, sombong dan mudah sekali menyalahkan orang lain. Cenderung dia saja yang benar, kelompoknya saja yang benar, merasa dia saja yang memiliki republik ini. Begitu punya sedikit kewenangan langsung merasa miliknya, tidak sadar kalau itu hanya titipan satu periode atau dua periode.
Baca juga: Pajak Meningkat, Negara Kian Memeras Rakyat?
Baca juga: Puluhan Tahun Mengabdi, Nasib Honorer di Ujung Seleksi
Selesai menjabat kembali menjadi rakyat dan pensiun. Begitu berkuasa dia merasa dialah pewaris NKRI. Padahal tidak sadar kalau perilaku yang dipertontonkan jadi cibiran rakyat jelata. Perilaku pemimpin berotak pendek adalah perilaku patologi. Perilaku patologis bisa dilihat dari cara berbicara, cara bertingkah laku di depan publik.
Bahkan sampai cara mengambil keputusan banyak kontroversi. Selalu buat kegaduhan, tapi anehnya semakin disorot kekurangannya semakin dia nikmati kesalahannya. Biasanya penyakit patologis bagi sang penderita, tidak menyadari dirinya kalau sedang sakit jiwanya.
