Tidak berhenti disitu saja, bahkan ketika ia sudah di perantauan dan bekerja sebagai penjaga SLB, masih ada kata-kata cemooh dan meremehkan dirinya. Beberapa orang selalu bertanya tantang siapa yang ditangani dan siapa yang menangani karena sama-sana memiliki keterbatasan.
"Jadi orang itu bilang, apa sih yang saya bikin, apa yang saya buat. Saya bilang tidak perlu orang tau saya apa adanya. Alhamdulilah orang bisa pakai sepatu, saya juga bisa," ucapnya.
Peristiwa dan kata-kata cemooh yang ia terima dijadikan motivasi untuk terus semangat dan berusaha. Di SLB sebagai penjaga sekolah, di tahun pertama ia mendapat gaji Rp 300 ribu per bulan. Kemudian tahun kedua ia diberi tugas tambahan menangani air yang dialirkan ke warga setempat, hingga gajinya bertambah.
Baca Juga: Berjuang Puluhan Tahun Sebagai Tukang Becak Demi Menyambung Hidup
Dengan keahlian yang dimiliki dalam menggunakan bahasa isyarat, ia kembali diberi amanah untuk mengajar siswa-siswi tunarungu yang tidak memiliki kemampuan mendengar.
