Selain Mar'atun, seorang teman yang diajak untuk ikut beasiswa tersebut (Abdul Rasyid) justru lolos. Ida mengaku tak akan kecewa jika beasiswa yang diurus anaknya bukan karena tawaran dari salah satu anggota DPRD Sulawesi Tenggara.
"Saya tak pernah meminta, anak saya yang ditawari langsung sama anggota dewan, karena IPK-nya tinggi, jadi dia coba mengurus," ujarnya sedih.
Ida menuturkan, anaknya berusaha mengurus sedari awal karena ia tak mengalami kendala sama sekali, apalagi semua persyaratan ia penuhi dengan baik. Ia juga mengaku janggal dengan pengurusan beasiswa anaknya, karena anaknya sudah diminta untuk membuka rekening di Bank Sultra.
Ia juga menilai, staf Biro Kesra tak memiliki kinerja yang baik. Jika terkendala gegara KTP, seharusnya diinformasikan sejak awal, sehingga calon penerima beasiswa bisa mengurus KTP di Kota Kendari, karena Mar'atun tinggal bersama ibunya yang kini bekerja di Kota Kendari.
Ida mengaku kecewa dengan pelayanan dan proses verifikasi yang dilakukan oleh Staf Biro Kesra. Ia menduga, anaknya tak diluluskan karena diganti oleh orang lain yang berdomisili di Sulawesi Tenggara.
