Sebab, PDIP tak bisa melupakan Presiden Jokowi adalah pemerintahan terpilih atas nama PDIP, Jokowi kadernya, begitu juga Gibran kader PDIP, artinya buruknya Jokowi dan Keluarganya maka buruk pula wajah PDIP. PDIP semakin mencaci-maki Jokowi dan Gibran, malah dapat menjadi bumerang buat partai itu sendiri. Apalagi jika malah didiamkan oleh Jokowi dan Gibran, persepsi publik malah semakin menyeruak ke kandang Banteng moncong putih.
Jadi, kehadiran Gibran merubah konstelasi perpolitikan. Fokus utama di Pilpres juga bergeser terjadi saling menghujat antar sesama koalisi nasionalis, kedua koalisi ini pada dasarnya sama-sama koalisi dari pemerintahan. Perseteruan ini yang dapat dimanfaatkan oleh pasangan AMIN, dengan titik fokus jungkalnya adalah pasangan Ganjar-Mahfud, sebab bagaimanapun Jokowi sebagai penguasa politik bisa merancang kelolosan Prabowo-Gibran dengan pengelolaan kekuasaan yang dimilikinya. (*)
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS
