“Pendapatan tahun ini dan tahun 2018 beda tipis, tahun 2018 harga tertinggi perkilonya Rp 21.000 sementara tahun ini harga tertinggi mencapai Rp 23.000,” tambahnya.

Sebagai nelayan rumput laut, lanjutnya, penghasilanya seperti itu tentu dapat menunjang ekonomi keluarga. Begitu pula bagi seluruh keluarga kelompok nelayan di lingkungan Kalangana yang saat ini telah tergabung menjadi satu wadah koperasi. Untuk wilayah pesisir Bandar Batauga, disaat musim Barat aktivitas budidaya rumput laut tidak ada. Semua rakit yang ada dilaut diangkat kedarat untuk menghidari gelombang laut musim Barat.

“Nanti diakhir bulan April atau Mei tahun depan, semua rakit rumput laut diturunkan kelaut. Bibit rumput laut masih diambil dari La Sori Mawasangka Timur. Jadi kami disini hanya bekerja satu musim saja, berbeda dengan di wilayah pesisir Sampolawa yang dapat dilakukan sepanjang tahun,” katanya.

Baca Juga: Hanura Belum Tentukan Pilihan Balon Bupati

Di lokasi terpisah, Kabid Pengembangan Usaha Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Busel, Muhammad Dafis Kasri mengatakan, pengembangan rumput Laut di Buton Selatan ditahun 2019 ini fokus di Kecamatan Sampolawa dengan peremajaan bibit unggul kultur jaringan bantuan dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau.